22 April 2008

PERAN SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA DALAM MEMBANGUN BANGSA

Oleh:
Wilis Rengganiasih, S.Sn., M.A.

ABSTRACT

This article discusses the role and possible contribution of Buddhist colleges in Indonesia. Students of Indonesian Buddhist colleges are supposed to be the core agents of Buddhism in Indonesia since they are prepared to become teachers of Buddhism, as well as Dhamma Duta. Their very duty is not to sustain the existence of the Buddhist institution in the country, but to make the Dhamma a way of life, promoting compassion and the non-harming principle to be available as an alternate choice for our heterogeneous society. In accordance with the Buddha’s original message to teach the Dhamma for the sake of happiness of all beings, I will relate the Buddha’s teaching with an educational slogan of higher educational institutions in Indonesia, the Tri Dharma Perguruan Tinggi (Three Dharmas of Higher Education): education, research, and serving society. I propose an idea of emphasizing the third Dharma, the motivation for serving society as the basis for the first two Dharmas. In doing so, education and research activities stand as the actualization of the dedication.



What is the Buddhist college’s role in the challenge of our nation’s multi-dimensional-crises? How do they accomplish their responsibility? These questions will lead us to reflect on the current situation of our nation; the prevailing of a poor educational system as being criticized by the experts in educational and cultural sciences, which directs the collapse of our morality and thus, our humanity. The role—and responsibility—of Indonesian Buddhist colleges is very crucial. Education should provide not only the intellectual or cognitive aspects, but also the elements of aesthetics, ethics, morality, and spirituality. These non-cognitive aspects, indeed, first and foremost are the task of the religious educational institution, such as the Buddhist college.
The implementation of the commitment of Buddhist colleges to devote their thoughts and activities to society at large, is the active support of all persons involved in the educational affairs: the colleges’ leaders, lecturers, students, parents, community, and the government. All of them have to realize that the Buddhist students are the “agent of change”; the capability and duty to bring about changes in the society are on their hands. Hence, Indonesia needs to walk on the right track to achieve the national development’s goal: “membangun manusia Indonesia seutuhnya” (to build full humanity in the Indonesian).


Key words: role, Buddhist college, development.
PENGANTAR RENUNGAN
Setiap lembaga pendidikan baik formal maupun non formal idealnya memiliki rumusan visi dan misi serta tujuan dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara garis besar dapat diasumsikan bahwa membekali anak didik dengan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan minat dan bakat menjadi fokus utama. Instansi-instansti pendidikan saling berlomba hendak mencetak insan-insan yang berkualitas, tidak semata untuk membangun citra instansi yang bersangkutan, melainkan untuk tujuan yang lebih mendasar—dan seyogyanya menjadi landasan utama—yaitu untuk mempersiapkan generasi penerus yang akan membangun bangsa dan negara. Jika selalu mengingat dan berpegang teguh pada prinsip tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan menuntut terpenuhinya kualitas dari dua sisi yang tidak dapat saling dipisahkan: mentalitas/moralitas dan intelektualitas. Akan tetapi, yang berkembang di dalam masyarakat kita nampaknya memisahkan kedua kualitas tersebut yang semestinya berjalan berdampingan dan saling menguatkan.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa secara umum laju pendidikan kita—lebih baik tidak tergesa untuk mengkritisi pendidikan di luar negeri—mengalami kepincangan. Sisi pendidikan mentalitas/moralitas dan kepribadian terabaikan, sementara pencapaian intelektualitas mendapat perhatian lebih banyak. Hasilnya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari: banyak orang pintar dan cerdas, tetapi kehidupan masyarakat kita semakin merosot, baik dari segi kesejahteraan ekonomi maupun kualitas kemanusiaan. Laporan-laporan di media sampai keluhan-keluhan para generasi tua mengisyaratkan kegelisahan terhadap generasi muda yang tidak mengenal sopan-santun atau budi pekerti, mengkritik sistem pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan materi pelajaran yang terlalu banyak dan berat tanpa memberikan waktu untuk membina kepribadian siswa, kurikulum yang tidak efisien, dan sebagainya. Situasi seperti ini terjadi sebagai akibat kurang—atau bahkan hilangnya—kesadaran dan tanggung jawab para penyelenggara pendidikan dan semua pihak yang terlibat di dalamnya, termasuk para siswa dan orang tua mereka serta seluruh masyarakat. Kesalahan tidak dapat ditudingkan pada salah satu atau beberapa pihak saja, karena setiap persoalan muncul dari sebab yang saling berkaitan.
Ketimpangan dalam dunia pendidikan juga disebabkan oleh faktor lain, yaitu kesalahpahaman terhadap konsep pembangunan. Pemahaman kita tentang pembangunan telah mengalami penyempitan dan pemiskinan makna; pembangunan hanya diukur dari pencapaian materi, laju pertumbuhan ekonomi—celakanya kesejahteraan ekonomi pun gagal kita wujudkan—kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, industri dan perdagangan, pengembangan dan pendirian gedung-gedung mewah, pusat-pusat perbelanjaan, sarana hiburan, dan aspek-aspek lain yang bersifat materialistik. Jika kita cermati maka dengan sangat mudah kita kenali bahwa semua elemen tersebut tidak berhubungan dengan pembangunan kualitas kita sebagai manusia. Sempit dan dangkalnya kesadaran akan pendidikan yang “utuh” telah membuka jalan pada dihalalkannya tindakan “para pendidik” dan pimpinan serta para staf melakukan bisnis di sekolah. Setiap kesempatan untuk mencari penghasilan tambahan tidak dilewatkan, tanpa merasa malu merendahkan martabat sendiri sebagai pendidik. Bocornya soal-soal ujian nasional yang terjadi berkali-kali di negeri kita, mencerminkan budaya serba “instan” dan “pemalas” yang berorientasi pada hasil dan tidak mempedulikan pentingnya proses pencapaian. Ini hanya contoh kecil dari sekian banyak ketidakberdayaan dan ketidaksadaran—lebih tepatnya kebodohan dan ketidakpedulian—kita menjadi bulan-bulanan tren dunia.
Untuk membenahi keadaan masyarakat, kita dapat memulai dengan mengembalikan pendidikan pada jalur yang benar karena pendidikan menyiapkan para agen perubahan (the agents of change). Pendidikan pada semua lapisan, mulai dari pra pendidikan dasar (kelompok bermain) sampai dengan pendidikan tinggi, milik pemerintah atau swasta, formal maupun non formal, semua berkewajiban untuk mempunyai komitmen yang benar serta membenahi diri. Dalam tulisan ini, lembaga pendidikan formal setingkat perguruan tinggi, khususnya sekolah tinggi agama Buddha di Indonesia menjadi titik perhatian. Sebagai penyelenggara sekolah tinggi agama Buddha, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mendidik mahasiswa yang akan menjadi guru agama Buddha maupun duta Dhamma dengan memberikan landasan kepribadian yang kuat. Moralitas dan mentalitas hendaknya membingkai kemampuan intelektualitas para calon lulusan—bahkan barangkali kedua aspek inilah yang harus diutamakan, meskipun tanpa mengecilkan arti pencapaian kualitas akademik.
Sebagaimana perguruan-perguruan tinggi agama lain, sekolah-sekolah tinggi agama Buddha dapat menjadi pelopor dalam membenahi sistem pendidikan kita. Dengan latar masyarakat Indonesia yang terhitung religius—dengan ukuran masih menganggap penting nilai-nilai ajaran keagamaan—perguruan-perguruan tinggi agama seharusnya memiliki posisi istimewa. Kita bisa menawarkan rancangan pendidikan yang mengembalikan pendidikan sisi humanisme sebagai acuan utama. Perumusan, penterjemahan, dan pelaksanaan visi, misi, dan tujuan ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, dapat disesuaikan dengan komitmen utama. Pengabdian pada masyarakat ditempatkan pada urutan pertama; di mana misi ini menjadi dasar pokok dalam penyelenggaraan pendidikan dan penelitian. Dengan menekankan pada misi untuk mengabdi pada masyarakat, sudah sepantasnya menghindari hal-hal yang merugikan atau tidak berpihak pada masyarakat secara luas. Penekanan dan orientasi yang berbeda diharapkan akan membawa perubahan pada cara berpikir, sikap, dan tindakan setiap insan maupun instansi yang terlibat di dalamnya. Sebagaimana diyakini oleh Sallie McFague, dalam membuat suatu rancangan untuk merubah sikap dan kesadaran, memungkinkan kita untuk hidup dengan perspektif baru.1
Memposisikan Tri Dharma Perguruan Tinggi “pengabdian pada masyarkat” pada urutan tertinggi sesungguhnya mengembalikan kita pada pesan Guru Agung Buddha Gotama agar mengajarkan Dhamma demi kesejahteraan semua makhluk. Para mahasiswa yang akan menjadi guru agama Buddha dan duta Dhamma mengemban kewajiban utama untuk menanamkan pengetahuan Dhamma pada generasi penerus Buddhis kita agar menjadi insan-insan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. Tugas mereka bukanlah untuk menjaga kelangsungan hidup “institusi agama Buddha,” atau mencetak “nama besar” perguruan-perguruan tinggi agama Buddha, atau mengembalikan “kejayaan agama Buddha” di masa lalu, atau semacamnya. Tugas mereka—dan kita semua sebagai masyarakat Buddhis—adalah mengupayakan agar Dhamma yang merupakan ‘cara hidup’ (way of life) yang berprinsip penuh welas asih (loving-kindness) dan anti-kekerasan (non-harming) tetap eksis sebagai sebuah alternatif bagi masyarakat kita yang heterogen.
Sekolah tinggi agama Buddha di Indonesia, dari segi kuantitas masih sangat kecil, dan—dengan rendah hati juga harus kita akui—kita harus bekerja dengan “sangat keras” untuk membangun kualitas agar dapat sejajar dengan perguruan-perguruan tinggi agama lain. Meskipun langkah kita masih tertinggal dan kemampuan masih sangat terbatas, kita tetap harus berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat. Peran apa yang dapat kita jalankan di tengah-tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis multi dimensi ini? Sumbangan apa yang dapat kita persembahkan pada masyarakat Indonesia yang multi religi dan multi etnik?

Membangun Mentalitas dan Intelektualitas
Guru Agung Buddha Gotama mengajarkan bahwa pengetahuan dan keterampilan merupakan salah satu sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan. Sebuah bait dalam syair Mangala Sutta atau khotbah Buddha tentang berkah utama berbunyi:
Bahusaccanca sippanca,
Vinayo ca susikkhito,
Subhasita ca ya vaca,
Etammangalamuttaman
Terjemahan:
Memiliki pengetahuan dan keterampilan,
Terlatih baik dalam tata susila,
Ramah-tamah dalam ucapan,
Itulah berkah utama.
Seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan akan dapat menolong diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup dan harus dilengkapi dengan moralitas yang luhur supaya tidak mendatangkan bencana bagi kehidupan. Baris kedua dan ketiga dalam syair tersebut, “terlatih baik dalam tata susila dan ramah-tamah dalam ucapan” tidak lain adalah kesantunan watak yang memahami dan mempraktikkan kebajikan. Dengan demikian, ketiga faktor tersebut selayaknya dimiliki secara bersama-sama, barulah akan menjadi “berkah utama”. Ajaran Sang Buddha ini selaras dengan pandangan para pakar pendidikan dan ilmu budaya pada masa kini. Kritikan dilontarkan atas ketimpangan sistem pendidikan kita yang hanya mengutamakan aspek logika dan kognitif, sedangkan aspek etika dan estetika diabaikan.2
Persoalan-persoalan yang sedang menimpa masyarakat kita—juga masyarakat dunia—merupakan wujud dari pembangunan yang pincang, yang kurang mempedulikan aspek batiniah atau spiritual, estetika, dan etika moral. Estetika dan etika melatih dan membentuk watak/kepribadian menjadi halus atau peka dan peduli terhadap sekeliling kita, namun kita meninggalkannya. Telah disinggung di depan bahwa pembangunan kita lebih dikonsentrasikan pada aspek-aspek fisik atau material: gedung-gedung tinggi menjulang, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah, tempat-tempat untuk memanjakan diri, dan sebagainya. Pemujaan keunggulan intelektualitas dan keterampilan menjadi berlebihan, sebaliknya, pembentukan kepribadian yang santun dan bajik sering dilewatkan. Dengan demikian kita telah menyimpang dari cita-cita pendidikan nasional untuk “membangun manusia Indonesia seutuhnya.”
Kita mendengar atau menyaksikan berbagai permasalahan sosial setiap hari: kriminalitas, kemiskinan, korupsi, kolusi, nepotisme, tawuran pelajar, sampai bencana alam yang menimpa bangsa kita. Semua itu secara langsung atau tidak langsung dan pada kadar tertentu merupakan akibat dari “ketidakutuhan” kita sebagai manusia. Kecerdasan emosional kita sangat rendah, kecerdasan spiritual kita hanya berhenti pada ketaatan terhadap ritual yang tanpa makna. Semangat gotong-royong, kerukunan, dan keramahtamahan digantikan oleh individualisme, prasangka, dan mudah tersinggung. Persoalan kecil gampang berujung pada berakhirnya kehidupan seseorang. Salah satu persoalan yang sangat mendesak dan perlu mendapatkan perhatian ekstra ialah konflik antaragama dan antaretnis, suatu gambaran rendahnya toleransi antarumat beragama dan antaretnis dalam masyarakat kita. Terutama institusi keagamaan, termasuk lembaga pendidikan agama, baik formal atau non-formal harus dengan sigap dan cerdas mengusahakan jalan keluar.
Hidup di tengah masyarakat yang plural seperti Indonesia harus benar-benar bisa dan mau menerima serta menghargai perbedaan. Lembaga agama, lembaga adat, dan lembaga pendidikan menjadi ujung tombak bagi terbentuknya pengertian, sikap, dan tindakan yang saling menghargai antarpemeluk agama, kepercayaan, dan antarsuku. Sayangnya sejumlah lembaga tersebut justru ikut menjadi sumber atau agen pemicu terjadinya sikap saling mencurigai, saling membenci, atau sekadar sikap terlalu bangga pada keyakinan pribadi. Sebuah pernyataan mengenai kenyataan ini, “Lembaga agama dan sistem pendidikan yang mensosialisasikan nilai-nilai telah banyak dikritik sebagai lembaga yang cenderung merefleksikan dan menggemakan stereotip dan prasangka antarkelompok yang sudah terbentuk dan beredar di masyarakat.”3
Toleransi tidak hanya sekadar menghargai dan menghormati pihak lain di luar keyakinan atau kelompok kita sendiri. Tidak cukup hanya sebatas “tidak mengganggu” ketika orang lain sedang menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, juga belum memadai kalau masih berpikir: “Jika kamu tidak menggangguku, tidak menyakiti, dan merendahkan keyakinanku, maka aku tidak akan mengusikmu.” Tetapi apa yang terjadi jika salah satu pihak tanpa sengaja telah menyinggung pihak yang lain? Terlebih lagi bagaimana jika hal itu disengaja? Oleh karena itu, toleransi membutuhkan pengenalan yang benar akan ajaran agama/kepercayaan dari masing-masing pihak. Pertukaran informasi atau dialog harus diselenggarakan demi keterbukaan dan penghapusan prasangka. Apabila satu sama lain telah saling mengenal secara mendalam, maka dapat diharapkan akan tumbuh rasa dan sikap saling pengertian. Kesempatan untuk menjembatani dan memfasilitasi terbentuknya persahabatan antarkelompok inilah yang menjadi tanggung jawab utama lembaga agama/kepercayaan/adat dan lembaga pendidikan agama.
Sekolah tinggi agama Buddha sudah selayaknya bergerak aktif untuk mensosialisikan dan mempraktikkan semangat kerukunan dalam kemajemukan. Peran dan fungsi tersebut sesuai dengan yang dikampanyekan oleh UNESCO bahwa pendidikan harus menjadi sarana untuk learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.4 Kebesaran nama Raja Asoka yang menjunjung tinggi kebebasan beragama jangan hanya menjadi kenangan akan kejayaan masa lampau. Semangat dan keberhasilan praktik ajaran Buddhis ini sangat perlu kita jaga agar tetap hidup di dalam setiap sanubari umat Buddha. Sektarianisme yang sempit tidak akan membawa kita pada kebebasan dari kemelekatan dan keakuan, melainkan sebaliknya. Perasaan superior terhadap agama, keyakinan, atau sekte/mazab yang lain dapat menjadi penghalang bagi terciptanya toleransi yang sesungguhnya. Sekali lagi, toleransi bukan sekadar mau menerima keberagamaan, tetapi bisa menjalani kehidupan bersama dengan seimbang dan harmoni.

TANTANGAN BAGI SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA
Tantangan yang ada di depan mata bagi sekolah-sekolah tinggi Buddhis dengan demikian cukup berat. Pada kesempatan peresmian kampus STAB Syailendra Semarang, misalnya, Y.M. Dhammasubho Mahathera menyampaikan harapan agar sekolah ini—dan tentu saja sekolah-sekolah Buddhis lainnya—mampu menyiapkan pemuda-pemudi Buddhis menjadi ilmuwan sekaligus cendekiawan. Artinya, sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan akademis dan berbudi pekerti luhur sehingga mampu menerapkan keilmuannya bagi kesejahteraan masyarakat.5 Demikian pula pesan dari Y.M Sri Paññavaro Mahathera agar institusi ini dapat memperbaiki moral bangsa, sehingga jangan hanya menitikberatkan pada unsur kognitif.6
Jika meninjau kembali kondisi bangsa kita, dengan mempertimbangkan kritik-kritik dari para pakar pendidikan dan budaya, kita memang perlu segera merombak cara berpikir kita. Sebagaimana yang penulis ajukan pada bagian awal tulisan ini, Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga, yaitu pengabdian pada masyarakat sebaiknya menjadi landasan pokok. Dalam perspektif Buddhis, motivasi merupakan hal yang penting. Y.M. Dalai Lama mengatakan:
Actions and events depend heavily on motivation . . . If we develop a good heart, then whether the field of our occupation is science, agriculture, or politics, since the motivation is so very important, the result will be more beneficial. With proper motivation, these activities can help humanity; without it, they go the other way.7

Rasanya kata-kata Y.M. Dalai Lama tersebut memang benar. Tindakan apa saja kalau motivasinya jelas, baik atau benar, tentunya akan membawa pada kesejahteraan. Sayangnya, ada saja hal yang baik pada awalnya, tetapi kemudian berbelok arah/melenceng menjadi tidak jelas dan akhirnya menimbulkan malapetaka. Sebagai contoh adalah pembangunan: pembangungan adalah demi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Akan tetapi dalam pelaksanaannya muncul kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok yang melupakan tugas dan tanggung jawab untuk mensejahterakan orang banyak, karena sibuk mengusahakan kesejahteraan pribadi dengan mengambil apa yang menjadi hak orang lain.
Dalam bidang pendidikan kasus-kasus penyelewengan banyak sekali ditemukan. Di Indonesia, departemen “paling korup” kedua setelah Departemen Agama adalah Departemen Pendidikan. Sungguh ironis! Mestinya kedua lembaga ini memegang tugas utama menegakkan moralitas bangsa, tetapi kenyataannya justru menduduki tempat teratas yang mencerminkan kebobrokan moral bangsa. Kembali lagi pada motivasi; dengan selalu menjunjung tinggi cita-cita dan usaha nyata untuk mengabdikan diri demi masyarakat, institusi-institusi pendidikan semestinya tidak meyimpang. Segenap tenaga, kemampuan, sistem dan strategi pengajaran serta penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan didasari oleh keinginan dan kesadaran untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik.
Kira-kira apa implikasi dari penyelenggaraan pendidikan yang berkonsentrasi untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pengabdian pada masyarakat sebagai agenda utama? Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah dan mengurangi sikap dan tindakan kurang terpuji dari para pelaku pendidikan. Hal-hal yang kurang tepat dan kurang efisien dalam menyusun desain pendidikan dapat dibenahi. Faktor yang terpenting yaitu kesadaran dan kemauan untuk mewujudkan cita-cita mulia ini selayaknya dimiliki oleh semua pihak yang terlibat:
• Pemimpin institusi pendidikan yang memegang kendali dan kebijakan berpijak pada prinsip selalu memikirkan dan mengusahakan yang terbaik bagi keberhasilan lembaga dalam mengemban tugas untuk menyiapkan generasi muda yang berkualitas secara moral dan intelektual.
• Tenaga pengajar berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri terus-menerus baik dalam cara memberikan materi kepada mahasiswa maupun kualitas keilmuannya sendiri, bersedia dan mampu mengarahkan serta memotivasi mahasiswa, dapat menjadi teladan, dan rela berkorban lebih banyak demi kemajuan mahasiswa.
• Karyawan dan seluruh staf memiliki kesadaran dan kemauan bekerja secara optimal untuk mendukung lancarnya urusan yang secara langsung ataupun tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar.
• Mahasiswa harus menyadari dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai agent of change yang akan merubah nasib bangsa, memiliki visi yang jauh ke depan, tidak sekadar sekolah untuk segera lulus dan mendapatkan pekerjaan. Orientasi yang sempit harus mulai diubah. Tugas tunas-tunas muda bangsa, tugas mahasiswa pada masa kini lebih berat untuk membenahi negara dan masyarakat.
• Orang tua juga perlu mengubah cara pandang dan memahami tugas anak-anak mereka sebagai generasi penerus bangsa benar-benar lebih berat dari masa-masa sebelumnya. Para orang tua tidak lagi pada tempatnya jika hanya berpikir agar anak-anak segera bekerja dan berkeluarga, sehingga memberikan cucu-cucu bagi hiburan di hari tua. Generasi muda kita mempunyai tugas yang lebih besar dari sekadar meneruskan garis dan tradisi keturunan keluarga mereka. Bumi ini sudah terlalu sesak dihuni oleh manusia. Over population dan over concumption menjadi penyebab utama rusaknya planet tempat kita tinggal.
• Masyarakat dari segala lapisan, secara pribadi ataupun kelompok, hendaknya mendukung penyelenggaraan pendidikan dalam bentuk materi, moral, pengertian, dan iklim yang kondusif bagi keberhasilan mendidik anak bangsa. Sebagai contoh: para pengusaha lebih berhati-hati dalam menciptakan “image-image,” misalnya “hidup yang sukses dan bahagia” lewat media iklan atau program-program hiburan televisi dan lain-lain. Ketidakpekaan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang merugikan—karena hanya profit-oriented—akan menjerumuskan masyarakat.
• Pemerintah harus benar-benar menyadari betapa penting dan mendesaknya memusatkan perhatian pada sektor pendidikan demi mengentaskan bangsa dari keterpurukan. Pemerintah sudah semestinya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyokong kebutuhan bidang pendidikan secara memadai. Apabila dana yang disediakan sangat tidak memadai dan masih terampas lagi karena berhasil dikorupsi, maka kebangkitan dari krisis mental dan material tetap akan sulit diwujudkan.
Dari semua yang telah disebutkan, yang terpenting adalah kemauan untuk rela berkorban, rela menunda kenikmatan, rela berjuang habis-habisan untuk kehidupan saat ini. Mereduksi pikiran yang terpusat pada diri sendiri, “self-centeredness”, sangat krusial dipahami secara mendalam. Paham tersebut tidak hanya berarti keegoisan individu; orientasi kelompok berdasarkan keyakinan/sekte/etnisitas dan sebagainya yang eksklusif juga termasuk dalam sifat “self-centered.” Kita sekarang hidup di masa yang dipenuhi oleh persoalan-persoalan complex dan complicated; sekat-sekat bangsa sudah lenyap, sehingga persoalan di belahan dunia lain akan berimbas pada kehidupan kita. Kemiskinan dan peperangan di negara lain tidak bisa kita acuhkan begitu saja. Dunia telah menjadi global village, kita tidak hidup terisolasi dari bangsa lain.
Penyelenggaraan pendidikan yang bekerja secara seadanya saja, tidak berorientasi maju, diiringi dengan penyelewengan dana dan wewenang; penyusunan desain, materi, sistem pembelajaran, kegiatan penunjang yang tidak terfokus untuk meningkatkan mutu sudah tentu hanya akan berjalan di tempat, mundur, atau hancur. Kegagalan dalam merespon persoalan-persoalan sosial yang membutuhkan solusi juga berarti pendidikan kurang realistis. Satu lagi kritikan terhadap model pendidikan kita yang sering terlalu banyak materi, tapi tidak matched dengan kebutuhan di masyarakat. Bagaimana mungkin lembaga pendidikan, terutama mahasiswa mampu terjun ke masyarakat jika tidak benar-benar diajak untuk berhadapan, memahami, menganalisis, lalu memberikan kontribusi pemikiran untuk pemecahan atas masalah-masalah sosial? Kalau mahasiswa hanya pandai menghafal materi sesuai textbook, maka kreativitas, kemampuan menganalisis, dan berpikir kritis tidak mungkin dimiliki. Setelah lulus, para mahasiswa kita tidak akan mampu berbuat banyak untuk masyarakatnya. Selain tidak memahami realitas sosial, barangkali batin mereka juga tidak tergerak untuk bertindak karena selama menimba pendidikan, hanya otak yang diasah, sedangkan kepedulian sosial sangat kurang. Bila ini yang terjadi, maka sehebat apapun kepandaian—ini pun kalau berhasil dicapai—tidak akan menjadi Berkah Utama karena tidak memberikan manfaat pada kehidupan. Sebagai agent of change, tugas mahasiswa untuk menimba ilmu–terlebih saat ini—seperti kata Marx yang dipinjam oleh Adeney, yaitu tidak sekadar untuk memahami dunia, tapi untuk mengubah dunia.8 Selaras dengan ajaran Buddha yang ditujukan untuk mengobati mereka yang “sakit,” maka dunia pendidikan juga harus bersifat action-oriented: to serve others, to serve society. Ajaran Buddha dalam kitab suci dijadikan referensi untuk merespon persoalan-persoalan aktual, supaya kita tidak berjarak dengan kenyataan hidup, supaya tidak hidup di alam idealisme, supaya ilmu yang diperoleh mahasiswa benar-benar mampu membuat perubahan menuju pada kehidupan yang lebih baik.


MEMBANGUN HARAPAN
Sesudah kita paham bahwa persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat berat dan banyak; seandainya kita sepakat untuk mengambil peran dalam ikut memanggul beban tersebut sekarang saatnya untuk memacu diri lebih keras lagi. Perjuangan dengan motivasi yang benar, dengan tekad dan semangat untuk menjadikan kehidupan bangsa kita lebih baik, harus diimbangi dengan ketepatan dalam tindakan. Sebagai umat Buddha, kita tidak cukup mengatakan dan mengharapkan semoga semua makhluk berbahagia. Sebagai contoh: penghapusan kemiskinan yang melanda masyarakat kita dan negara lain membutuhkan the real action. Tentu saja kita juga harus melengkapinya dengan mengerti benar apa penyebab, mengapa terjadi, dan apa yang melanggengkannya. Contoh lain: penindasan dan diskriminasi tidak akan berakhir hanya dengan mengatakan semua itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, bertentangan dengan ajaran Buddha. Tindakan untuk mengubahnya harus dilakukan. Sebagaimana diungkapkan oleh Pemimpin Tibet: “It is not enough merely to state that all human beings must enjoy equal dignity. This must be translated into action.”9
Semoga kita sadar bahwa tanggung jawab kita sebagai insan yang bergerak di bidang pendidikan sangat besar. Semoga para orang tua, masyarakat, dan semua pihak aktif membantu kelahiran para generasi muda Buddhis yang mampu dan mau mengubah kehidupan menuju yang lebih mulia dan bermakna. Sadhu.

Comments :

1
rebi mengatakan...
on 

salut banget dengan umat buddha yang rukun tanpa ada kekerasan ataupun saling hina menghina padahal banyak sekte yang telah berdiri, tetapi umat buddha mampu menunjukan adanya suatu kerja smaa yang bagus antar sekte dengan terlihat ketika merayakan waisak seluruh umat buddha dari berbagai macam golongan ataupun sekte bersama-sama membangun suatu agama yang harmonis,walaupun mereka merayakan waisaknya ditempat yang berbeda tetapi tetap satu tujuan yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang makmur, tentram, damai dan sejahtera

kak Wilis salam kenal, namaku rebi
Boleh berkenalan dan berbagi pengalaman?
makasih
Saddhu.....saddhu...saddhu

 

Pengikut

Copyright © 2009 by STAB SYAILENDRA BLOG
Themes : Magazine Style by Blogger Magazine